[Emilda, S.Pi., M.Si.]
"Berikan aku sepuluh pemuda yang cerdas dan tangguh, akan aku
taklukkan dunia"
Statement Bung Karno ini pasti tak asing lagi di
telinga kita. Pemuda termasuk didalamnya mahasiswa dipahami sebagai komunitasdalam
masyarakat yang menyandang predikat strategis. Pernyataan Bung Karno diataspun
bukan main-main, karena pemuda khususnya mahasiswa memang adalah intelektual
dan agen peubah. Mahasiswa seharusnya kaya
dengan idealisme, cinta dengan perubahan dan sangat mudah tersentuh
kesadarannya. Sejarah telah membuktikannya, bagaimana pemuda dekat dengan
masyarakat dan terdepan dalam perubahan.
Tapi, patut kita tanyakan apakah
karakter ini masih ada hingga sekarang?
Penelitian Guru Besar Ilmu Pendidikan Moral Universitas Negeri Semarang Prof Masrukhi (2010) menyebutkan bahwa saat ini kebanyakan mahasiswa adalah mahasiswa rekreatif yang berorientasi pada gaya hidup glamor dan bersenang-senang, jumlahnya mencapai 90 persen. Sedangkan kelompok yang idealis-konfrontatif yaitu yang cenderung aktif menentang kemapanan lalu mahasiswa idealis-realistis, yang lebih kooperatif dalam perjuangan menentang kemapanan; mahasiswa oportunis, yang cenderung mendukung pemerintah yang tengah berkuasa; serta mahasiswa profesional, yang hanya berorientasi pada kuliah atau belajar berjumlah tak lebih dari 10% diantara sekitar 5 juta mahasiswa Indonesia.
Hasil pengkajian Prof. Masrukhi semakin menguatkan fenomena yang sebenarnya sudah lama dirasakan dan disaksikan. Banyak orang mengatakan mahasiswa saat ini telah keluar dari karakter yang sebenarnya. Jika sosok mahasiswa identik dengan intelektualitas yang tinggi, berpikir mendalam, berpengetahuan yang luas, serta peduli pada masalah masyarakat, namun sosok ini sekarang sangat jarang ditemukan . Fenomena kekinian mahasiswa cenderung hedonis, senang hura-hura (dugem, clubbing, nge-drug dll), cara berpikir instan (pragmatis) dan males berpikir yang ‘berat’ serta cenderung menghalalkan segala macam cara (nyontek, plagiarism dll). Bahkan suka tawuranpun mulai dilekatkan pada mahasiswa .
Degradasi pemikiran dan gaya hidup mahasiswa yang demikian tentu sangat mengkhawatirkan. Bagaimana masyarakat mengharapkan mahasiswa bisa menyelesaikan masalah bangsa ini, jika mereka sendiri justru sering menjadi beban masyarakat. Bagaimana mereka mampu mengubah kondisi terpuruk bangsa ini, jika merekapun sudah terperosok dalam lubang kerusakan pola pikir dan pola sikap. Ditangan siapa masa depan negeri akan digantungkan, jika generasi penerusnya dalam keadaan ‘sakit’.
Hanya saja, rusaknya generasi muda atau mahasiswa khususnya, tentu tidak bisa disalahkan hanya pada mereka semata. Karena mereka (pemuda) lahir dan tumbuh dalam pengasuhan generasi sebelum mereka. Mereka dibentuk dan hidup dalam lingkungan yang diterapkan didalamnya sistem kapitalisme yang mengagungkan kebebasan dan kesenangan jasadiyah. Sedangkan pola sikap mereka adalah hasil ‘meneladani’ para pemimpinnya saat ini. Cara berpikirnya adalah cara berpikir pragmatis yang terbentuk oleh sistem pendidikan negeri ini yang mereka peroleh dari level dasar hingga perguruan tinggi.
Beginilah kualitas generasi muda saat ini. Semua itu adalah produk pendidikan integratif antara negara, masyarakat, dunia pendidikan dan keluarga yang keseluruhannya berjalan dalam sistem kehidupan yang kapitalistik. Sistem kapitalisme telah berhasil membentuk pola pikir dan sikap materialistik yang memang merupakan ruh dari ideologi ini. Keseluruhan standar nilai yang berkembang dalam kehidupan, orientasinya materi. Bahkan dunia pendidikanpun yang sejatinya mempertahankan nilai spiritual dan akhlak/moral-pun sudah tergerus oleh sistem ini. Pendidikan kita sekarang, hanya fokus pada hasil yang sifatnyapun kuantitatif. Sedangkan keberjalanan proses untuk mengupayakan hasil tersebut tidak diperhatikan dan dihargai. Standar penilaian yang seperti ini turut membentuk instanisasi berpikir dan menghalalkan semua cara asalkan keinginan tercapai. Begitu pula keluarga membentuk pola pikirnya. Standar kesuksesan yang ditanamkan orang tuapun nyaris seluruhnya materialistik. Bahkan tak jarang orang tua menyekolahkan anak tujuannya untuk bekerja lalu mendapatkan uang.
Oleh karena itulah penyelamatan
generasi muda sebagai pelanjut estafet bangsa membutuhkan solusi fundamental
dan terintegrasi dari keluarga,
masyarakat dan negara dengan kebijakan-kebijakannya. Karena (sekali lagi) mahasiswa hedonis dan berpikir pragmatis
adalah akibat sistemik sebagai produk dari penerapan sistem buruk kapitalis
liberal yang telah mempengaruhi segala lini kehidupan.
Saat ini kita butuh solusi fundamental yang bisa menyelesaikan secara tuntas ‘tidak setengah-setengah. Solusi yang berimbang dengan serangan untuk merusaknya. Jika kerusakan generasi muda disebabkan oleh sebuah sistem kehidupan (ideologi) maka solusinyapun harus ideologi.
Islam adalah ideologi. Karena Islam terdiri dari sekumpulan mindset tentang kehidupan dan aturan. Islam bukan hanya nilai-nilai tapi Islam juga punya aturan untuk mengatur seluruh urusan kehidupan manusia. Jika kita ingin memperbaiki masalah ini dengan Islam, tentu tidak cukup hanya dengan penanaman nilai-nilai moral saja apalagi hanya mengandalkan jam pelajaran agama yang sangat minim itu. Bahkan keteladanan yang dibentuk dalam keluargapun seringkali tidak berdaya untuk melawan arus dari lingkungan/sistem.
Namun dibutuhkan Islam yang
ideologi ini. Yaitu dengan menerapkan sistem Islam secara terpadu di seluruh
sisi mulai dari keluarga, masyarakat dan negara. Yaitu mengambil dan meyakini Islam sebagai
sekumpulan mindset dan nilai, sekaligus menerapkan Islam sebagai aturan
kehidupan/undang-undang. Keterpaduan inilah yang dimaknai sebagai penerapan
Islam secara ‘kaaffah’.
Dengan demikian, saatnya para pemuda Islam yang saat ini
telah bangkit dan telah terpanggil untuk melakukan perubahan hendaknya
mengarahkan seluruh energi dan pemikiran untuk menegakkan sistem Islam. Tidak
mencukupkan diri dengan aktifitas yang bersifat spiritualitas atau sosial,
tanpa membangun visi perubahan yang revolusioner dengan sistem Islam. Karena sampai kapanpun masalah tidak akan
terselesaikan dengan baik dan tuntas jika sistem ini tidak diganti kepada
sistem yang baik pula yaitu Islam. Dengan
penerapan sistem kehidupan Islam ini sajalah akan mampu melahirkan generasi
berkualitas yang siap melanjutkan estafet bangsa dan memimpin umat di masa
depan. Bangsa dan umat ini Insya Allah
akan kembali memiliki pemuda-pemuda seperti Ali bin Abi Thalib, Mush’ab bin
‘Umair, Abdurrahman bin “auf, pemimpin sekelas Umar bin Khaththab, Umar bin
Abdul Aziz bahkan panglima sehebat Khalid bin Walid dan Muhammad al Fatih.
pemuda adalah ujung tombak perubahan_so, hati2lah wahai para pemuda_jgn mudah tertipu kenikmatan dunia_krn semua percuma jika tidak dalam rangka berjuang di jalan Allah Swt...allaahu akbar...
BalasHapus