Selasa, 03 Januari 2012

KRISIS PANGAN DI NEGERI AGRARIS

[Kanti Rahmillah, S.TP.]


Krisis pangan mengancam dunia, tak terkecuali indonesia sang negeri agraris. Harga pangan melonjak naik, di daerah DRAMAGA kampus dalam saja harga beras mencapai Rp 6500/liter, tadi saya ke pasar kaget IPB (10 desember 2011) harga tomat di pasar sudah mencapai Rp12.000/kg yang biasanya Rp 5.000. Belum lagi jika kita berbicara buah-buahan, buah jeruk Thailand, Cina jauh lebih enak dan murah dibandingkan jeruk lokal, wal hasil Al Amin depan dibanjiri buah-buah impor, kenapa? Ya selain harganya lebih murah, indonesia punya mental lebih suka yang impor2 :).

Mari melihat lebih luas. Untuk Indonesia, menurut sumber World Development Indicator 2007, jumlah penduduk yang dinyatakan rawan pangan mencapai 13.8 juta jiwa (6%). Data ini diperkuat dengan kasus kelaparan di beberapa tempat, bahkan ada yang sampai meninggal akibat gizi buruk, dan bunuh diri akibat tidak kuasa menahan lapar setiap hari. Ada juga masyarakat yang terpaksa makan nasi aking, dll. Untuk Dunia, dalam laporan Unicef disebutkan bahwa setiap menit ada 10 anak meninggal akibat kekurangan gizi. Tentu itu semua baru sebagian kecil yang terekspos media massa.

Lantas apa yang menyebabkan krisis pangan, terutama di indonesia sebagai negeri agraris?apakah mahasiswa IPB nya sudah sudah tidak cerdas2?sehingga tidak mampu membuat solusi baik dari sisi teknologi, eksplorasi SDA, penyilangan bibit unggul, hingga perhitungan ekonomi? (jawabannya mahasiswa IPB cerdas2, coz sy juga mahasiswa IPB ), so... apa kalo begitu?



Terdapat 3 penyebab terjadinya krisis. Pertama: distribusi pangan yang buruk. Ini terjadi ketika produksi pangan di suatu negara sebenarnya cukup secara kolektif, atau surplus. Namun, karena sistem distribusinya buruk, beberapa orang tidak bisa mendapatkannya. Distribusi yang buruk ini terjadi ketika harga dijadikan sebagai unsur tunggal pengendali distribusi. Artinya, orang dipaksa mendapatkan bahan makanan dengan cara membeli; tidak ada mekanisme lain kecuali dengan cara membeli. Kalau dia tidak mampu membeli berarti dia tidak berhak mendapatkan bahan pangan tersebut.

Kedua: produksi pangan yang minus. Artinya, jumlah produksi pangan lebih kecil daripada jumlah kebutuhan untuk seluruh rakyat. Ini bisa terjadi karena adanya musibah seperti kekeringan, banjir, serangan hama, dan lain-lain, yang menyebabkan terjadinya kegagalan panen. Bisa juga terjadi karena kondisi pertanian di suatu negara memang lemah sehingga tingkat produksi pertaniannya rendah.

Ketiga: karena kombinasi dari dua kemungkinan di atas, yaitu distribusinya buruk dan produksinya juga minus.

Untuk indonesia, jika kita lihat data2 produksi di BPS or deptan dan juga teknologi2 yang dihasilkan oleh peneliti2 termasuk IPB masalah pangan di indonesia adalah masalah distribusinya. Dan ini adalah peran pemerintah untuk mendistribusikan pangan dari wilayah surplus ke wilayah minus.

Lalu kenapa kita memilih impor pangan? padahal jelas2 masalahnya terletak pada distribusi bukan produksi? Jawabnya, karena indonesia sudah terikat dengan WTO dari jaman presiden soeharto dulu, kita harus membuka perekonomian kita menuju perdagangan bebas. pada washington konsesnsus, indonesia dan negara2 lainya, menyepakati harus dilakukanya deregulasi, privatisasi dan liberalisasi dalam menyambut pasar bebas ini. Indonesia tidak boleh memprotek dalam negerinya, indonesia harus menerima impor agar ekspornya bisa juga diterima oleh negara lain.

Terjadinya impor pangan, karena permintaan pangan impor meningkat, ko bisa?padahal menurut almarhum Prof Dr Sriani Sujiprihati MS, guru besar IPB mengatakan bahwa pangan indonesia jauh lebih bergizi daripada pangan impor. Tapi pada faktanya di indonesia, kedelai impor sebesar 70% dari kebutuhan nasional. Jagung 10%, Kacang Tanah 15%, Bawang Putih 90%, Gula 30%, Susu 70%, dan Daging Sapi 25%, why? Karena harga pangan impor lebih murah dari harga pangan lokal.

Ambil contoh komoditi kedelai yang merupakan bahan baku industri tempe, tahu dan kecap impor 70 %. Harga kedelai impor Rp 8.268/kg sedangkan kedelai petani lokal Rp 8.867,padahal secara logika biaya transportasi AS ke indonesia jauh lebih mahal dari sentra produksi kedelai indonesia, why? karena petani AS contohnya, yang merupakan negara pengekspor kedelai di suport negara, mereka diberikan subsidi, agar harga produksinya rendah. Sedangkan petani diindonesia dengan alasan efisiensi dicabutlah subsidi untuk petani, walhasil biaya produksi meningkat, harga jual pun meningkat. Ditambah tarif impor untuk kedelai 0 %. Wal hasil petani kedelai kalah saing dengan petani amerika. Ironis ya? Dengan alasan agar indonesia menjadi negara maju yang terbuka, pemerintah menggadaikan kesejahteraan petani. Jadi indonesia adalah negara yang lebih kapitalis dari pada negara pengusung kapitalismenya itu sendiri.

Begitulah paradoks negeri yang kita cintai ini, inti permasalahan pangan seperti tertera diatas adalah masalah distribusi pangan yang buruk oleh pemerintah dan kebijakan pemerintah yang pro pasar bebas sehingga pasar domestik dibanjiri impor. Adapun solusi yang ditawarkan Islam adalah jadilah indonesia yang mandiri, jadilah indonesia yang berdaulat atas panganya, sehingga kebijakannya tidak mudah di setir oleh negara yang mempunyai kepentingan besar di negeri ini. Tentunya akan sulit untuk kita menjadi negara yang tidak tergantung impor jika sistemnya masih pro pasar. Sistem pemerintah indoneisa haruslah pro rakyat seperti sistem ekonomi Islam.

Menurut anwar iman Direktur Agricultural Policy Watch solusi islam aagar indonesia keluar dari krisis pertama: negara harus memberikan suport penuh dalam pembangunan pertanian; misalnya dengan memberikan modal, lahan, sarana produksi pertanian, dll kepada petani.

Kedua: dilakukan kebijakan ekstensifikasi; dibuka lahan-lahan baru untuk pertanian, stop konversi lahan petanian menjadi non pertanian.

Ketiga: dilakukan intensifikasi dengan penemuan bibit unggul, sistem budidaya, penyediaan pupuk, dan obat pembasmi hama yang efektif.

Keempat: dilakukan restrukturisasi pertanian. Misalnya, petani-petani gurem yang tidak efisien dengan lahan hanya 0,2-0,3ha harus ditingkatkan skala usahanya dengan lahan yang lebih luas.

Kelima: dilakukan penanganan yang baik pada sektor pemasaran produk pertanian. Misalnya, rantai pemasaran yang merugikan petani harus dihapus; disiapkan infrastruktur pendukung yang memadai seperti jalan, alat transportasi, pasar, dll; juga dibangun industri-industri yang dapat menyerap hasil pertanian.

Menurut Prof Didin Damanhuri (guru besar IPB) indonesia harus berdaulat atas panganya, sehingga punya kekuatan politik yang kebijakannya tidak mudah disetir pihak berkepentingan.

4 komentar:

  1. Memang untuk merealisasikan kemandirian pangan harus ada revolusi paradigma di bidang pertanian. Dlm sistem kapitalisme, nilai tertinggi bagi pangan adlah sbg komoditi ekonomi. paradigma ini hrs diganti dg paradigma yg benar bhw pangan adalah pilar ketahanan bangsa sbg penentu kualitas SDM. Dg paradigma yg benar inilah, pemerintah mengganti paradigma aturan terkait partanian dan pangan.

    BalasHapus
  2. sepakat mb mufidah....selama paradigma negara kita masih sekuler, sistem ekonomi masih neolib...maka solusi teknis diatas sulit bahkan tidak mungkin terealisasi. masalahnya adalah hy segelintir org yg faham, bahwa krisis pangan yg terjadi di dunia, khususnya indonesia, akibat dari diterapkannya sistem kapitalisme. mari opinikan islam punya solusi dengan kemandirian pangan dalam bingkai sistem khilafah, bukan sistem demokrasi.

    BalasHapus
  3. ketidakmampuan masyarakat untuk menganekaragamkan makannnya juga salah saru penyebab penting yang tidak dpat dilupakan. Orang-orang pendahulu kita bisa bertahan di segala musim dan keadaan karena mereka mempunyai berbagai jenis makanan. Sejak revolusi hijau, kita dibiasakan hanya untuk makan nasi, dan untuk negara barat dibiasakn hanya makan gandum(mungkin). Itu tidak hanya berlaku bagi pangan pokok seperti nasi. Buah juga termasuk. keanekaragaman jenis buah di Indonesia termasuk tinggi, tetapi karena masyarakat hanya tahu buah yang "itu-itu saja", petani Indonesia yang notabene mempunyai lahan kecil/sedikit tidak dapat memenuhi permintaan konsumen/masyarakat, sehingga kita melakukan impor.

    BalasHapus